Jumat, 07 Juni 2013

asal usul dukuh pucang, desa jatiroto pati

LEGENDA DESA JATIROTO



DAN DUKUH PUCANG



Berawal dari datangnya dua tokoh dari Mataram. Kedua tokoh ini diutus untuk



mencari jasad dari Raja Mataram yang meninggal dunia namun jasadnya belum ditemukan,



raja tersebut bemama Sultan Agung Hanyokrokusumo. Sultan Agung Hanyokrokusumo



adalahraja dai Mataram yang sangat disegani dan dihormati. Beliau adalah raja yang sangat



bijaksana, semua punggawa prajurit dan orang-orang Mataram sangat patuh dan tunduk



kepadanya. Selain dilihat dari kepemimpinannya Sultan Agung Hanyokrokusumo adalah



sosok yang religius dan dekat dengan Sang Kholiq. Beliau memeluk agama islam dan



mengamalkannya kepada abdi dalem kerajaan serta rakyatnya. Sultan Agung



Hanyokrokusumo sudah memimpin Mataram selama bertahun-tahun, sehingga umur



beliaupun semakin lama juga bertambah tua. Dengan umur beliau yang sudah tua, akhirnya



Sultan Agung Hanyokrokusumo meninggal, namun jasadnya menghilang dan tidak diketahui



keberadaannya. Menurut ceritazaman dahulu orang yang dekat denganSang Khaliq, ketika



meninggal maka jasad atau mayatnya juga akan ikut menghilang (Muswo, dalam bahasa



Jawa), begitu pula dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Namun pada waktu itu para



punggawa dan orang-orang di Mataram tidak mempercayai hal itu, mereka beranggapan



bahwa jasad Sultan Agung Hanyokrokusumo masih ada di dunia hanya saja tidak diketahui



keberadaannya. Ada juga masyarakat Mataram yang menganggap bahwa Jasad dari Sultan



Agung Hanyokrokusumo disembunyikan atau diculik oleh musuh Mataram dengan tujuan



Maka dari itu para abdi dalem, punggawa dan prajurit Mataram mengadakan



Sarasehan atau rapat untuk menindaklanjuti kejadian tersebut. Dari hasil sarasehan maka



terambil suatu keputusan, yaitu menugaskan prajurit Mataram untuk mencari jasad Sultan



Agung Hanyokrokusumo. Setelah sarasehan selesai, para pemimipin prajurit membagi



pasukan dan disuruh untuk menyebar dan mencari jasadSultan Agung Hanyokrokusumo.



Kedua tokoh dari Mataram, yaitu Ki Gusti Mataram dan Haji Mataram juga ikut



ditugaskan untuk mencari jasad Sultan Agrrng Hanyokrokusumo. Kedua tokoh ini akhirnya



melaksanakan tugasnya. Dalam pencariannya,sampailah kedua tokoh ini di suatu daerah,



dimana daerah ini masih berupa hutan belantara. Sambil mencari jasad raja Mataram, kedua



tokoh ini membuat tempat untuk bernaung dengan cara babat alas atau membersihkan semaksemak dan pepohonan yang lama-kelamaan tempat tersebut menjadi perkampungan yang



cukup luas. Setelah jadi perkampungan kedua tokoh ini berinisiatif untuk menyebarkan



agamia Islam kepada masyarakat sekitar. Ajaran Islam yang disampaikan juga disambut



dengan senang hati oleh masyarakat yang ada disitu.



Suatu ketika, di perkampungan tersebut terjadi sebuah bencana bardir bandang.



Banjir ini berasal dari gunung Kendeng, sehingga perkampungan tersebut menjadi porak



poranda dan sarah atau sampah dari pohon jati berserakan dimana-mana. Setelah banjir



surut, kedua tokoh ini membuat kesepakatan karena perkampungan ini banyak berserakan



sampah pohon Jati. Maka kedua tokoh ini berinisiatif untuk membersihkan sampah tersebut



dengan membagi tugas, masing-masing tokoh ini mendapat bagian atau wilayah yang



harus dibersihkan. Mbah haji Mataram membersihkan disebelah selatan, sedangkan Ki



Gusti Mataram mendapat bagian di sebelah utara. Setelah semua sampah bersih, terciptalah



perkampungan barq namun terbagi menjadi dua perkampungan. Untuk wilayah yang



dibersihkan oleh Ki Gusti Pucang, para warga masyarakat menjuluki desa tersebut dengan



nama desa Pucang. Sedangkan untuk wilayah yang dibersihkan oleh Mbah Haji Mataram di



beri nama Desa Jabung. Ki Gusti Mataram dan Mbah Haji Mataram menjadi tokoh penting di



desa atau wilayatr masing-masing. Suatu ketika terjadi perselisihan dan pertikaian antara desa



Pucang dan desa Jabung, kedua tokoh ini pula yang mendamaikan kedua desa tersebut.



Setelah bertahun-tahun menetap di perkampungan tersebut kedua tokoh ini akhimya



meninggal dunia. Sampai mereka meninggal dunia, mereka juga gagal dalam melaksanakan



misi, yaitu mencari Sultan Agung Hanyokrokusumo. Dan setelah kedua tokoh ini meninggal



dunia makamnya dijadikan punden dan masyarakat menyebutnya dengan sesepuh. Makam



kedua tokoh ini dinamakan "Sentono dalem". Seiring berlalunya waktu dan perkembangan



zatnan kedua dulruh tersebut menjadi desa yang cukup luas dan penduduknya semakin



banyak. Kedua dukuh ini dipimpin oleh Kepala Desa. Dukuh Pucang dipimpin oleh



Mowidjojo dan dukuh Jabung dipimpin oleh Prawirongadin. Di kedua dukuh ini sering



terjadi banjir sehingga masyarakat menjadi panic dan gelisah. Maka dari itu kedua pemimpin



dukuh tersebut melakukan tirakat atau kuasa dan bertapa di kedua makam, yaitu makam



Ki Gusti Mataram dan Mbah Haji Mataram. Usaha itupun membuahkan hasil. Suatu ketika



kedua pemimpin tersebut mimpi dan bertemu dengan Ki Gusti dan Haji Mataram. Kedua



sesepuh ini menceritakan asal usul terjadinya kedua desa tersebut, bahwa dahulu dikedua



dukuh terjadi bencana banjir bandang dan kedua dukuh



menjadi rata dengan sarah jati yang berserakan.Kemudian sesepuh berpesan kepada



pemimpin dukuh tersebut, untuk menyatukan kedua dukuh tersebut menjadi satu desa.



Dengan wasilah yang diberikan oleh sesepuh. Kemudian kedua pemimpin tersebut



menyanggupinya. Akhirnya kedua dukuh tersebut disatukan menjadi satu desa yang diberi



nama Jatiroto. Diambil dari cerita sesepuh / wasilah sesepuh. Pada waktu itu salah



satu dari kedua tokoh Mataram menempati wilayah perkampungan yang saat ini disebut



Jatiroto. Beliau adalah Ki Gusti Pucang. Pada waktu itu, Ki Gusti tinggal di wilayah yang



saat ini dinamakan Pucang.



Ki Gusti adalah orang yang ahli dalam membuat pusaka dan ahli strategi peperangan.



Pusaka buatan beliau yang paling terkenal dikalangan masyarakat adalah keris. Hasil



karyanya sangatlah terkenal dikalangan kerajaan maupun masyarakat umum, dan sangat



dikagumi banyak masyarakat. Banyak pula masyarakat biasa sampai kalangan kerajaan yang



memesan keris dari hasil karya Ki Gusti. Keris buatan Ki Gusti sangat ampuh dan biasanya



digunakan untuk berperang. Selain membuat pusaka beliau juga ahli dalam merancang stategi



perang. Biasanya kerajaan yang mau berperang menyuruh Ki Gusti untuk merencanakan



strategi. Namun yang paling banyak berperang adalah pusaka buatan Ki Gusti.



Dengan terkenalnya pusaka atau keris buatannya beliau dijuluki empu yang tersohor



atau ternama. Menurut para masyarakat pusaka yang dibuat Ki Gusti sangat canggih. Dari



awal nama empu, yaitu julukan dari Ki Gusti, muncullah istilah empucang yang lambat laun



masyarakat setempat memberikan nama dukuh tersebut dengan nama Empucang. Diambil



dari julukan Ki Gusti dan pusaka buatannya yang canggih. Karena Ki Gusti dijadikan sesepuh



Dengan perkembangan zatrlar., saat ini duhrh tersebut disatukan dengan Jabung dan



diberi satu nama yaitu Desa Jatiroto. Dan Empucang dan Jabung itu dijadikan sebagai nama



dukuh. Nama dukuh Empucang sekarang berubah, karena pengucapan orang jawa. Sehingga



Empucang menjadi Pucang, dan nama Pucang tetap sehingga Empucang menjadi Pucang,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar